Abang

" Ara Apa Kabar ..? "
Sapa suara lelaki disebarang sana dari ponselku ketika dering itu terdengar begitu berisik di tengah malam. Suaranya aku kenal sekali, parau dan sedikit bergetar. Aku terdiam tanpa tahu harus berkata-kata apa. Hanya kilatan-kilatan kisah mulai menggelayut dalam ingatanku kembali.

Kenapa harus menghubungi aku lagi abang, geramku dalam hati, tapi aku sadar, bahwa aku tak memungkiri bahwa selama ini suara itu yang selalu aku rindukan. Dasar lelaki egois aku mengutuk kembali dalam hati, menahan air mata yang hendak membuncah manja. 

Cukup bang, cukup. Abang telah cukup mempermainkan perasaanku. Selama ini aku menghormatimu sebagai seorang lelaki dewasa yang menyayangiku sebagi adik, bukan sebagai kekasih. 

" A..Ara..kamu koq diam..? "
Hhhh,...aku menarik nafas dalam-dalam, membiarkan rasa itu berkecamuk sendiri. " Iya,...abang. Ada apa?  Gau tau apa ini tengah malam, ngapain nelpon..? "

Terdengar desah nafasnya begitu berat. Emang aku peduli, maaf bang aku memilih sendiri daripada harus berurusan dengan lelaki pembohong macam abang. Rasanya sudah terlalu cukup air mata ini keluar sia-sia buat abang. Aku tak mau lagi terluka. 

" Jangan jutek gitu dong, ara. Nanti tambah manis lho kalau jutek "  Huh dasar gombal murahan. Udah nggak mempan deh.

" Ara abang mao ngomong sesuatu sama ara.."
" Gak mau dengeer..." timpalku  
" ara dengar duluuu,..." kali ini suara itu agak memelas. Awas ya jangan bilang kalau abang kangen lagi. Jangan bilang kamu sedang berantem sama istri kamu gara-gara aku. 

" Ya udah, ayo ngomong. Ara ngantuk mo tidur lagi. " Lama-lama aku nangis beneran nih bang, dalam hatiku. 

" ..ra, abang mau  minta maaf. Beberapa waktu yang lalu ara bilang abang pembohong, abang pikir-pikir, abang ingat-ingat lagi abang baru sadar abang pernah janji sesuatu sama ara ya..? "

" Nggak...!!! "

" Abang pernah bilang mo nikah sama ara dan akan menunggu ara sampai ara selesai kuliah,..kan...? "

Dasar pembohong, rupanya baru ingat sekarang dia sama janjinya dulu. Huh,...semudah itukah seorang lelaki melupakan ucapannya. Waktu itu aku terlalu polos untuk mempercayai kata-katanya. Bahkan tak bisa membedakan itu serius atau main-main. 

" Ara,..bukan abang lupa sama janji abang. Abang terlalu sayang sama ara. Hidup abang saat itu tidak karuan. Tidak jelas. Abang merasa abang tidak pantas buat ara. Abang memilih pergi dari kehidupan ara, berharap Ara menemukan pasangan yang jauh-jauh lebih baik dari abangmu ini. Abang memilih pergi demi kebahagiaan ara. Biarlah abang menjadi Kakakmu yang bisa tetap menyayangimu sepanjang masa"

"oohhh,,,jadi abang pikir dengan meninggalkan ara, ara bahagia begitu ??, abang egoisss.....!!! " 

Panggilan kututup. Kumatikan lalu kulempar jauh-jauh disudut tempat tidur. Menahan rasa kesal, sedih dan kecewa. Bathin tak terima.
 " ..Abangggggg ......" 
Merintih dalam hati kepedihan yang menjadi. Dan tetap saja tak mampu kutahan derai air mata ini.

Cerpen By Kosasih









0 Response to "Abang"

Post a Comment

Terima Kasih sudah mampir